Apa Jadinya Jika Kita Tidak Disiplin Lawan Corona di Indonesia

Apa Jadinya Jika Kita Tidak Disiplin Lawan Corona

Spread the love

Pmitebo.or.id, Cerita Relawan – Siapa yang patut disalahkan atas wabah COVID-19 saat ini? Jawabanya tidak ada yang disalahkan karena ini adalah musuh dunia. Negara yang di klaim memiliki standarisasi kesehatan yang mumpuni juga kewalahan menghadapi COVID-19.

Bahkan, Italia wabah COVID-19 menyumbang angka kematian tertinggi didunia dengan 9.134 kematian atau 31,9% dari total kematian didunia akibat COVID-19. Bagaimana dengan Amerika Serikat, Spanyol, Perancis? Ya angka kematian di negara tersebut mencapai 1.717 dari 105.019, 5.690 dari 72.248, dan 1.995 dari 32.964 (28/03/2020 Pukul 19.18).

Jadi tidak ada yang patut disombongkan soal siapa yang paling baik soal pelayanan kesehatan namun kedisiplinan kita bersama. Namun apa jadinya jika kita tidak disiplin lawan corona?. Kita ketahui, siapa yang dahulunya melihat Vietnam unggul dari segi fasilitas kesehatan. Namun, strategi mereka dalam memerangi COVID-19 patut di acungi jempol karena disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

Baca Juga : Ini yang harus dilakukan ketika mudik

Hingga tulisan ini diketik lebih dari 620.723 Kasus Positif Covid-19, 28.650 Meninggal Dunia, dan 137.348 dapat disembuhkan (28/03/2020 Pukul 19.18). Angka kematian dengan total pasien Positif COVID-19 di dunia mencapai 4,49%.

Bagaimana dengan Indonesia?, data yang dilansir dari Press Release Jubir Gugus COVID-19 Pusat, saat ini (28/03/2020) ada 1.155 Positif COVID-19, 109 Meninggal Dunia, dan 59 Orang dapat disembuhkan. Angka kematian di Indonesia secara presentase mencapai 9,43% dari total kasus Positif COVID-19 saat ini (28/03/2020).

Tulisan ini bukan untuk mendiskriditkan Indonesia, namun ini untuk pemahaman bagi kita agar disiplin dengan anjuran Pemerintah. Memang terasa berat untuk menjalankan anjuran, apalagi berkaitan soal ekonomi keluarga.

Namun ini mau tidak mau, jika kita tidak mentaati maka yang terjadi adalah memperpanjang masalah, memperkeruh situasi ekonomi, dan kita akan dihantui dengan rasa was – was. Was – was itu timbul karena lawan kita (COVID-19) bukanlah musuh yang nyata tapi membunuh, baik itu nyawa, perekonomian, pendidikan hingga petugas medis.

Baca Juga : Live Update COVID-19 di 198 Negara

Ketika segelintir orang berpendapat negara kita kebal COVID-19 bahkan ada yang membuat konten lelucon tentang COVID-19. Kadangkala saya berfikir, ribuan nyawa melayang diluaran sana, banyak yang kehilangan orang – orang yang disayang, sementara ada oknum yang kurang ber empati. Mari kita mulai, negara kita sudah terjadi COVID-19. Kita lakukan sesuai kemampuan kita dan posisi kita.

Apa yang harus kita lakukan?

Untuk Petugas Medis

Untuk petugas medis yang menjalankan sebuah misi kemanusiaan yang besar sudah sepatutnya mendapatkan perhatian khusus. Mereka rela kesehatan mereka terancam demi nyawa seseorang, padahal mereka sama dengan kita, punya keluarga dirumah, dan orang – orang yang menyayangi mereka. Mereka telah menjalankan tugasnya walaupun ada yang dinyatakan gugur. Salah satu penyebabnya ialah kekurangan Alat Perlindungan Diri (APD).

Untuk petugas medis saya berharap untuk senantiasa menjaga kesehatan, kami memahami kalian juga punya rasa lelah, punya rasa takut, dan punya rasa tanggung jawab. Namun, jika jumlah tenaga medis semakin banyak terpapar, siapakah yang akan mengobati kami apabila ada yang dinyatakan Positif COVID-19.

Baca Juga : Sehat selalu mahasiswa rantau

Doa kami menyertai untuk perjuangan kalian, semoga kalian tetap sehat dan baik – baik saja. Untuk pahlawan kesehatan yang terpapar, kami mendoakan semoga kalian segera diberikan kesembuhan, karena kami tidak dapat mengobati kalian dan kami hanya mengikuti saran #dirumahsaja. Untuk pahlawan kesehatan yang telah gugur, semoga Tuhan menempatkan pahlawan kesehatan kami disurga-Nya. Aamiin.

Untuk Pemerintah

Dalam penanganan wabah penyakit di dunia, Anthony de Mello pernah mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. Tentunya pemerintah berupaya untuk meminimalisir hal ini agar masyarakat tidak panik. Walaupun kadangkala sebagian orang menanyakan kenapa data ini tidak transparan.

Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang tenang, dan paham apa yang mereka harus lakukan bagi lingkungan terdekatnya. Kemudian, masyarakat menyadari bahwa Negara hadir dan tanggap dalam mengendalikan situasi krisis yang sedang terjadi. Kita yakin dan perlu mendukung upaya pemerintah guna memerangi wabah COVID-19 di Indonesia.

Baca Juga : Infografis Jambi : 14 Selesai Perawatan

Perang pemerintah tak kalah kerasnya selain COVID-19 adalah melawan berita HOAX. Berita ini akan menambahkan kepanikan, mempercepat penyebaran, dan memperlambat pencegahan. Saya percaya terhadap pemerintah bahwa :

“Pemerintah Serius, Siap dan Mampu Menangani COVID-19”
“Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada”
“COVID-19 Bisa Sembuh”
#LAWANCOVID19

Untuk Relawan PMI dan Relawan lainnya

Untuk para Relawan PMI dan Relawan lainnya yang terus berpegang teguh pada prinsip kesukarelawanan, kalian luar biasa. Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan bersifat sukarela dan tidak bermaksud sama sekali untuk mencari keuntungan. Dalam penanganan COVID-19 kalian entah manusia macam apa, hanya sedikit yang seperti kalian.

Padahal kalian tidak digaji, mempertaruhkan nyawa, waktu, tenaga, biaya, kesehatan demi orang lain. Ingat, musuh kita adalah musuh yang tidak nyata, kesehatan tetap dijaga dan lindungi kalian dengan APD yang lengkap agar tidak terpapar. Karena kita merasakan hal yang sama, untuk kemanusiaan. Namun, tetap ingat pekerjaan ini penuh resiko, kita berharap agar kita dan keluarga kita dirumah senantiasa diberikan ketenangan dan kesehatan.

Kita turut mendoakan Relawan PMI yang telah gugur dalam menjalankan tugas pencegahan COVID-19 dan relawan dalam gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Menjalankan tugas dengan menjunjung tinggi sebuah slogan kemanusiaan yaitu Siamo Tutti Fratelli “Kita Semua Bersaudara”.

Untuk Para Donatur

Wabah COVID-19 bukanlah wabah tahunan yang dapat diantisipasi dengan menyiapkan anggaran setahun sebelumnya. Sehingga, hal ini pasti diluar dugaan, bukan hanya Indonesia tetapi 197 Negara di Dunia merasakan hal yang sama. Banyak donatur menyumbangkan donasinya dalam bentuk tunai maupun barang. Saya tidak dapat mengucapkan banyak kata selain terima kasih dan semoga kita dalam lindunganNya.

Baca Juga : Social Distancing dan Cara Pembuatan Disinfektan

Untuk Kita Masyarakat

Apakah kita ingin wabah ini berlangsung lama? Saya yakin seluruh rakyat Indonesia tidak menginginkan itu bahkan dunia. Karena seluruh sendi ekonomi, kesehatan, pendidikan, pembangunan semuanya terdampak. Ini (COVID-19) adalah musuh seluruh dunia, yang harus sama – sama kita lakukan adalah patuhi anjuran pemerintah.

Cukup masa 14 hari untuk #dirumahaja, keluar rumah jikalau penting. Bayangkan jika masa 14 hari namun peningkatan kasus semakin tinggi? Saya tidak mau untuk itu begitupun kalian. Musuh kita bersama ini adalah musuh yang tidak nyata, kita tidak tahu siapa yang berpotensi menularkan Virus itu.

Physical Distancing atau jarak antar fisik adalah salah satu langkah yang tepat. Jaga jarak dengan orang lain, ketika ditempat umum, minimal 2 meter jika memungkinkan. Bagi yang sakit pakai masker atau tutup dengan lengan bagian atas apabila batuk dan dengan tangan apabila bersin.

Setelah itu cuci tangan, ingat ketika sakit usahakan Isolasi diri dirumah, apabila darurat segera hubungi petugas medis. Bagi kalian yang merawat orang sakit harap jaga jarak, pakai masker, dan jangan tinggal dalam kamar yang sama jika memungkinkan. Apabila tidak memungkinkan, pakailah masker dan jagalah kebersihan.

Tunda dahulu ke fasilitas kesehatan apabila kita memiliki gejala COVID-19. Tetapi, hubungi petugas terdekat, ikuti arahan. Karena COVID-19 juga dapat berdampak pada petugas kesehatan.

Bagi masyarakat yang bekerja harian usahakan jaga jarak dalam bekerja minimal 2 meter jika memungkinkan. Pakai masker apabila ditempat umum, jangan dulu bekerja apabila sakit. Setiap diri kita tidak mengetahui apakah kita tertular atau menularkan. Karena gejala ini memiliki kesamaan dengan Flu. Apalagi vaksin hingga saat ini belum ditemukan.

Baca Juga : Pertanyaan Seputar COVID-19

Pulang dari bekerja jangan langsung menyentuh anak, keluarga, atau apapun kecuali setelah mencuci tangan. Tapi biarpun sudah cuci tangan kita harus jaga jarak setelah itu mandi dan segeralah cuci pakaian.Karena, kita tidak tahu apakah COVID-19 menempel dibaju atau tangan kita.

Bagi yang nekat mudik, sesampainya dirumah segera menghubungi petugas kesehatan terdekat, dan isolasi diri. Karena, dalam transportasi umum tidak dipungkiri resiko terpapar lebih besar. Agar tidak tertular, pakailah masker, bawalah hand sanitizer untuk mencuci tangan segera setelah menyentuh benda apapun dalam transportasi umum. Disamping itu, jaga jarak aman ketika duduk, kita tidak tahu apakah disekitar kita baik baik saja.

Perlu di ingat, jangan sampai kita #dirumahsakit apalagi #dirumahduka cukup #dirumahsaja untuk kita #lawancorona. Tanamkan di diri kita masing – masing, apa jadinya jika kita tidak disiplin lawan corona?. Namun kita optimis bersama – sama, kita Indonesia Bisa #lawancovid19
Salam Kemanusiaan
Slamet Setya Budi
Relawan PMI

__Terbit pada
Maret 28, 2020
__Kategori
Cerita Relawan

Penulis: pmikabupatentebo

Tinggalkan Balasan

banner 72890